<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>www.guruholid.com</title>
	<atom:link href="http://guruholid.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://guruholid.com</link>
	<description>Dedikasi terhadap Pendidikan</description>
	<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 08:02:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Puasa dan Kesehatan</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=58</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=58#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 08:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta  benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat.  Puasa, yang mensyaratkan untuk tidak makan, minum, dan melakukan  perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar  hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan  jasmani dan rohani.
Puasa dapat mencegah penyakit yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta  benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk <a title="Resep Agar Tetap Bugar dan Fit Di Usia Senja" href="http://www.f-buzz.com/2008/07/31/resep-agar-tetap-bugar-dan-fit-di-usia-senja/">istirahat</a>.  Puasa, yang mensyaratkan untuk tidak makan, minum, dan melakukan  perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar  hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan  jasmani dan rohani.<br />
Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang  berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk  kesehatan seseorang. Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan  kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti <a title="Mengatur Kolesterol" href="http://www.f-buzz.com/2008/08/18/mengatur-kolesterol/">kolesterol</a> dan trigliserida tinggi,  jantung koroner, kencing manis (<a title="Serba-Serbi Diabetes Mellitus" href="http://www.f-buzz.com/2008/08/04/serba-serbi-diabetes-mellitus/">diabetes mellitus</a>), dan  lain-lain.</p>
<p>Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai  aspek kesehatan, diantaranya yaitu :</p>
<ul>
<li>Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan,<br />
Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam  tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan  diberi istirahat.</li>
<li>Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan  puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga  menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang  bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.</li>
<li>Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk  menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih  secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.</li>
<li>Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh,</li>
<li>Memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh,</li>
<li>Meningkatkan fungsi organ tubuh</li>
</ul>
<p>Disunahkan agar berbuka puasa diawali dengan makan buah kurma, atau  dengan <a title="Buah Apel Dapat Mencegah Asma" href="http://www.f-buzz.com/2008/07/22/buah-apel-dapat-mencegah-asma/">buah</a>-buahan dan minuman yang  manis seperti madu. Ajaran ini mengandung makna kesehatan karena  buah-buahan dan minuman yang manis merupakan bahan bakar siap pakai yang  dapat segera diserap oleh tubuh untuk memulihkan tenaga setelah  seharian tubuh tidak disuplai oleh makanan dan minuman. Glukosa yang  terkandung di dalam buah-buahan dan minuman yang manis merupakan sumber  energi utama bagi sel-sel tubuh. Glukosa efektif dibutuhkan ketika tubuh  memerlukan masukan energi yang diperlukannya.</p>
<p>Anjuran <a title="Mari Kita Sarapan" href="http://www.f-buzz.com/2008/08/11/mari-kita-sarapan-manfaat-sarapan-setiap-pagi/">sahur</a> bukan semata-mata untuk mendapatkan  tenaga yang prima selama menunaikan ibadah puasa, melainkan juga  mengandung makna bahwa puasa perlu persiapan agar selama berpuasa  produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu.<br />
Pada waktu buka puasa dan sahur suplai gizi perlu diusahakan memenuhi  unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh, meliputi enam jenis zat gizi yaitu  karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pentingnya  keseimbangan gizi sering kurang disadari karena hasilnya tidak terlihat  langsung. Seseorang yang kekurangan zat gizi tertentu sama bahayanya  dengan mereka yang kelebihan gizi tertentu. Makan yang seimbang baik  dalam porsi maupun gizi akan mempengaruhi susunan saraf pusat dan  kondisi biokimia tubuh. Makan yang seimbang adalah makan yang tidak  kekurangan tetapi juga tidak berlebihan, yang disesuaikan dengan usia,  kualitas dan kuantitas gerak serta kondisi tubuh.</p>
<p>Pada beberapa orang, pada saat puasa mempunyai keluhan seperti merasa  lemas dan lesu atau stamina menurun, juga gangguan pencernaan seperti  perut kembung dan gangguan lambung. Beberapa bahan pangan tertentu  seperti madu, jahe, kencur, temu lawak, dan bahan-bahan lainnya dapat  digunakan untuk mengatasi stamina menurun, kembung, dan gangguan lambung  pada saat puasa.</p>
<p>Berikut beberapa bahan alami yang dapat digunakan agar puasa tetap  fit dan segar.</p>
<p><strong>1.MADU<br />
</strong>Khasiat : meningkatkan stamina serta mempertahankan stabilitias  tubuh agar tetap sehat dan bugar, melancarkan proses metabolisme, untuk  kecantikan dan awet muda, mencegah gangguan pencernaan, dan lain-lain</p>
<p><strong>2.KURMA<br />
</strong>Khasiat : meningkatkan stamina dan energi, mencegah &amp;  mengatasi anemia (kurang darah), melancarkan pembuangan, sebagai  penenang (merileksasi sel otot tubuh yang tegang), mencegah pendarahan  rahim.</p>
<p><strong>3.JAHE (Zingiber officinale Rosc.)<br />
</strong>Khasiat : meningkatkan stamina, mengatasi perut kembung, masuk  angin, mual, muntah, sakit kepala, pusing, demam, dan lain-lain</p>
<p><strong>4.TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)<br />
</strong>Khasiat : kolesterol tinggi, meningkatkan stamina  tubuh/tonikum, kurang darah, radang lambung/maag, perut kembung, dan  lain-lain.</p>
<p><strong>5.KENCUR (Kaempferia galanga)<br />
</strong>Khasiat : meningkatkan stamina tubuh, menghilangkan bau mulut,  radang lambung, kembung, mual, muntah, masuk angin, dan lain-lain.</p>
<p><strong>6.Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas)<br />
</strong>Khasiat : perut kembung, peluruh kentut, masuk angin, gangguan  lambung</p>
<p><strong>7.KUNYIT (Curcuma domestica Val.)<br />
</strong>Khasiat /efek ; radang lambung, memperlancar pengeluaran empedu  sehingga mengurangi perut kembung, mual, dan rasa begah di perut.</p>
<p><strong>8.KAPULAGA (Amomum cardamomum)<br />
</strong>Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut  sebah dan kembung.</p>
<p><strong>9.Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)<br />
</strong>Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut  sebah dan kembung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=58</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HIKMAH IBADAH HAJI</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=56</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=56#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 02:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz
Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #339966;"></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz</p>
<p>Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia. Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya di dunia seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan keadaan. Juga akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung kenikmatan (akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.</p>
<p>Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah.</p>
<p>[1]. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah<br />
Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.</p>
<p>Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.</p>
<p>“Artinya : Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan sujud” [Al-Hajj : 26]</p>
<p>Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia, mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.</p>
<p>[2]. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah<br />
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]</p>
<p>“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]</p>
<p>Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan</p>
<p>Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.</p>
<p>[3]. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam<br />
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”[Al-Hajj : 27]</p>
<p>Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.</p>
<p>[4]. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]</p>
<p>Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq (secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p>Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Mereka datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya’ (dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum’ah (dibicarakan orang lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan (tauhid) di antara hamba-hamba-Nya, dan saling menasehati di antara orang-orang yang datang (berhaji dan sebagainya,-pent) tentangnya (tauhid).</p>
<p>Mereka thawaaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya, menjalankan shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a supaya ibadah haji mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat ke nergara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo’a dan merendah diri kepda-Nya.</p>
<p>Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya agar mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan dan amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji dan lainnya.</p>
<p>[5]. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati<br />
Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati, sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat, zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.</p>
<p>Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya, menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<p>[6]. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala<br />
Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta memberi peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai hukum-hukum agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa menunaikan kewajiban mereka dengan ilmu.</p>
<p>Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama. Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah yang tua.</p>
<p>Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada, terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, untuk mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang agama dan manasik haji mereka.</p>
<p>Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya) ia, dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang tua, urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.</p>
<p>Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.<span id="more-56"></span></span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama” [HR Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika engkau dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu. Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>“Artinya  : Dan Allah tidak malu dari kebenaran” [Al-Ahzab : 53]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan tersebut.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[7]. Menyebarkan Ilmu</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya seperjalanan, yang di mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan di segala tempat. Ini adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan. Engkau bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa yang engkau miliki, akan tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.</p>
<p>[8]. Memperbanyak Ketaatan</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Artinya : Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah)” [Al-Hajj : 29]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah haram. Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an, tasbih, tahlil, dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak orang berkumpul dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[9]. Menunaikan Nadzar</span> <span style="color: #339966;"><br />
Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya untuk memenuhinya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>“Artinya : Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya” [HR Bukhari]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat, thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di tanah haram ini.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>“Artinya : Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [Al-Hajj : 29]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[10]. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang aman ini.</p>
<p>Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>“Artinya : ….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Hajj : 28]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[11]. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaaha ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa haula wa laa quwata illa billah).</p>
<p>“Artinya : Dari Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati”. [HR Bukhari, Bahjatun Nadzirin no. 1434]</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[12]. Berdo’a Kepada-Nya</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ; agar Dia menolong untuk menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia ridhai serta agar Dia menolong untuk berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya.</p>
<p>[13]. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul qur’an, berdzikir, berdo’a dan lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.</p>
<p>[14]. Menyembelih Kurban</span> <span style="color: #339966;"><br />
Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Sewaktu haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkurban 100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban. Kurban itu adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>Demikianlah sebagian hikmah dari ibadah haji (rukun Islam yang ke lima) mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya, dan senantiasa diberi petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta diberi kemudahan untuk menunaikannya. Amin</span> <span style="color: #339966;"></p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun III/1419H/1999M, Disadur oleh Abu Shalihah dari Majalah Al-Furqon nomor 72 hal.18-21. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183 ]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=56</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Depdiknas</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=51</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=51#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 06:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[ :: Sejarah Depdiknas





Sejak adanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 para pendiri bangsa ini telah menyadari pentingnya usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemikiran ini diperkuat dengan kenyataan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang menekankan bahwa tiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran. Untuk itu, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="judul2"> :: Sejarah Depdiknas</span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="98%" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="6%" height="100" valign="top" background="dir_images_i/menuutama_r3.jpg"></td>
<td width="94%" valign="top">
<div style="padding: 0px 10px 5px;">Sejak adanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 para pendiri bangsa ini telah menyadari pentingnya usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemikiran ini diperkuat dengan kenyataan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang menekankan bahwa tiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran. Untuk itu, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sehubungan dengan tuntutan konstitusi dimaksud, Pemerintah berketetapan untuk membentuk lembaga yang bertanggung jawab pada usaha pencerdasan kehidupan bangsa.Mulai saat itu sampai sekarang ini telah terjadi penggantian nama institusi yang menangani pendidikan sebanyak enam kali. Keenam nama institusi yang menangani pendidikan sejak kemerdekaan sampai saat sekarang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.</p>
<table style="border-color: #a1a1a1; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="5" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="4%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>No.</strong></td>
<td width="47%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>Nama Institusi</strong></td>
<td width="49%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>Periode</strong></td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">1</td>
<td valign="top">Kementerian Pengajaran</td>
<td valign="top">19-8-1945 s.d. 29-1-1948</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">2</td>
<td valign="top">Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">29-1-1948 s.d. 10-7-1959</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">3</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">10-7-1959 s.d. 6-3-1962</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="center" valign="top">4</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">6-3-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan</td>
<td valign="top">18-2-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Departemen Olahraga</td>
<td valign="top">6-3-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">5</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">25-7-1966 s.d. 26-10-1999</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">6</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan Nasional</td>
<td valign="top">26-10-1999 s.d. sekarang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="10" cellpadding="5" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" align="center" valign="top">
<p class="style3">
<p class="style3">DAFTAR NAMA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 1945 SAMPAI DENGAN SEKARANG</p>
</td>
<td rowspan="2" width="2%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="12%" valign="top"><img longdesc="./sejarah/kihadjardewantara.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/01_kihadjardewantara.jpg" alt="Ki Hadjar Dewantara" width="104" height="130" /></td>
<td width="84%" valign="top">
<p class="style1"><span class="style2"><strong>Ki Hadjar Dewantara</strong> (Yogyakarta, 2 Mei 1889 - 26 April 1959) </span></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Presidentil, Periode: 19 Agustus 1945 - 14 November 1945)</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/mulia.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/02_mulia.jpg" alt="Dr. Mr. T. S. G. Mulia" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style1"><span class="style2"><strong>Dr. Mr. T. S. G. Mulia </strong> (1896 - 1969) </span></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Sjahrir I, Periode: 14 November 1945 - 12 Maret 1946)</li>
<li>Menteri Muda Pengajaran (Kabinet Sjahrir II, Periode: 12 Maret 1945 - 2 Oktober 1946)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/muhammadsjafei.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/03_muhammadsjafei.jpg" alt="Muhammad Sjafei" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style1"><span class="style2"><strong>Muhammad Sjafei </strong> (21 Januari 1896 - 11 November 1966) </span></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Sjahrir III, Periode: 12 Maret 1946 - 2 Oktober 1946)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/wikana.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/04_wikana.jpg" alt="Wikana" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Wikana</strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Negara Urusan Pemuda (Kabinet Sjahrir II, Periode: 29 Juni 1946 - 2 Oktober 1946)</li>
<li>Menteri Negara Urusan Pemuda (Kabinet Sjahrir III, Periode: 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)</li>
<li>Menteri Negara Urusan Pemuda (Kabinet Amir Sjarifudin I, Periode: 3 Juli 1947 - 11 November 1947)</li>
<li>Menteri Negara Urusan Pemuda (Kabinet Amir Sjarifudin III, Periode: 11 November 1947 - 29 Januari 1948)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/suwandi.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/05_suwandi.jpg" alt="Mr. Suwandi" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style1"><span class="style2"><strong>Mr. Suwandi </strong> (Surakarta, Oktober 1899 - 6 Maret 1964) </span></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Sjahrir III, Periode: 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/gunarso.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/06_gunarso.jpg" alt="Ir. R. Gunarso" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style1"><span class="style2"><strong>Ir. R. Gunarso </strong> (Ponorogo, 22 Oktober 1908) </span></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Muda Pengajaran (Kabinet Sjahrir III, Periode: 2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img longdesc="./sejarah/alisastroamidjojo.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/07_alisastroamidjojo.jpg" alt="Mr. Ali Sastroamidjojo" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Mr. Ali Sastroamidjojo </strong> (Grabag, 21 Mei 1903 - 13 Maret 1976)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Amir Sjarifudin I, Periode: 3 Juli 1947- 11 November 1947)</li>
<li>Menteri Pengajaran (Kabinet Amir Sjarifudin II, Periode: 11 November 1947 - 29 Januari 1948)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Hatta I, Periode: 29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/08_supeno.jpg" alt="Supeno" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Supeno</strong> (&#8230;. - 24 Februari 1949)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pembangunan/Pemuda (Kabinet Hatta I, Periode: 29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/09_teukumohhasan.jpg" alt="Mr. Teuku Moh. Hassan" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Mr. Teuku Moh. Hassan </strong> (1906)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Darurat, Periode: 19 Desember 1948 - 13 Juli 1949)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/10_sarmidimangunsarkoro.jpg" alt="Sarmidi Mangunsarkoro" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Sarmidi Mangunsarkoro </strong>(Surakarta, 23 Mei 1904 - Juli 1959)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Hatta II, Periode: 4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Peralihan, Periode: 20 Desember 1949 - 21 Januari 1950)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Halim, Periode: 21 Januari 1950 - 6 September 1950)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/11_abuhanifah.jpg" alt="Prof. Dr. dr. Abu Hanifah, M.D." width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. dr. Abu Hanifah, M.D. </strong> (Padang Panjang, 1906)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet RIS, Periode: 20 Desember 1949 - 6 September 1950)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/12_bahderdjohan.jpg" alt="dr. Bahder Djohan" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>dr. Bahder Djohan </strong> (Padang, 30 Juli 1902)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan I, Periode: 6 September 1950 - 27 April 1951)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan III, Periode: 3 April 1952 - 30 Juli 1953)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/13_wongsonegoro.jpg" alt="Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Mr. K.R.M.T Wongsonegoro </strong>(Surakarta, 20 April 1897 - 1978)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan II, Periode: 27 April 1951 - 3 April 1952)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/14_muhyamin.jpg" alt="Mr. Muh. Yamin" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Mr. Muh. Yamin </strong> (Sawahlunto, 23 Agustus 1903 - 17 Oktober 1962)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan IV, Periode: 30 Juli 1953 - 12 Agustus 1955)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/15_rmsuwandi.jpg" alt="Prof. Ir. R. M. Suwandi" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Ir. R. M. Suwandi </strong> (25 Oktober 1904)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan V, Periode: 12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/16_kisarinomangunpranoto.jpg" alt="Ki Sarino Mangunpranoto" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Ki Sarino Mangunpranoto </strong> (Bagelen, 15 Januari 1910 - 1983)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kesatuan VI, Periode: 24 Maret 1956 - 14 Maret 1957)</li>
<li>Menteri PP dan K, dan Deputi Menteri Kebudayaan (Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi, Periode: 27 Maret 1966 - 25 Juli 1966)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Ampera, Periode: 25 Juli 1966 - 11 Oktober 1967)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="157"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/17_priyono.jpg" alt="Prof. Dr. Priyono" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Priyono </strong> (Yogyakarta, 20 Juli 1905 - 6 Maret 1969)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Karya, Periode: 9 April 1957 - 10 Juli 1959)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kerja I, Periode: 10 Juli 1959 - 18 Februari 1960)</li>
<li>Menteri PP dan K (Kabinet Kerja II, Periode: 18 Februari 1960 - 6 Maret 1962)</li>
<li>Menteri PD dan K (Kabinet Kerja III, Periode: 6 Maret 1962 - 13 November 1963)</li>
<li>Menteri PD dan K (Kabinet Kerja IV, Periode: 13 November 1963 - 27 Agustus 1964)</li>
<li>Menteri Koordinator Pendidikan/Kebudayaan (Kabinet Dwikora, Periode: 27 Agustus 1964 - 21 Februari 1966)</li>
<li>Menteri Koordinator PD dan K (Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Periode: 21 Februari 1966 - 27 Maret 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img longdesc="./menteri/iwakusumasumantri.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/18_iwakusumasumantri.jpg" alt="Prof. Iwa Kusuma Sumantri, S.H." width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Iwa Kusuma Sumantri, S.H. </strong> (31 Mei 1899 - 27 November 1971)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PTIP (Kabinet Kerja II, Periode: 18 Februari 1960 - 6 Maret 1962)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/19_tojibhadiwijaya.jpg" alt="Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwijaya" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwijaya </strong>(Ciamis, 12 Mei 1919)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PTIP (Kabinet Kerja III, Periode: 6 Maret 1962 - 13 November 1963)</li>
<li>Menteri PTIP (Kabinet Kerja IV, Periode: 13 November 1963 - 27 Agustus 1964)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/20_artatimarzukisudirdjo.jpg" alt="Artati Marzuki Sudirdjo" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Artati Marzuki Sudirdjo </strong> (15 Juni 1921)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PD dan K (Kabinet Dwikora, Periode: 27 Agustus 1964 - 21 Februari 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/21_teukusyarifthayeb.jpg" alt="Letjen. TNI Dr. Teuku Syarif Thayeb" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Letjen. TNI Dr. Teuku Syarif Thayeb </strong>(Peureula, Aceh, 7 Juli 1920 - 1989)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PTIP (Kabinet Dwikora, Periode: 27 Agustus 1964 - 21 Februari 1966)</li>
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan II, Periode: 22 Januari 1974 - 31 Maret 1978)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/22_maladi.jpg" alt="Maladi" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Maladi </strong> (31 Agustus 1912)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Olahraga (Kabinet Dwikora, Periode: 27 Agustus 1964 - 21 Februari 1966)</li>
<li>Menteri Olahraga (Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Periode: 21 Februari 1966 - 27 Maret 1966)</li>
<li>Deputi Menteri Olahraga (Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi, Periode: 27 Maret 1966 - 25 Juli 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/23_sumardjo.jpg" alt="Sumardjo" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Sumardjo</strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PD dan K (Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Periode: 21 Februari 1966 - 27 Maret 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/24_jleimena.jpg" alt="dr. J. Leimena" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>dr. J. Leimena </strong> (6 Maret 1905 - 29 Maret 1977)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri PTIP (Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Periode: 21 Februari 1966 - 27 Maret 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="140"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/25_saidreksohadiprodjo.jpg" alt="Moh. Said Reksohadiprodjo" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Moh. Said Reksohadiprodjo </strong> (Purworedjo, 21 Januari 1917 - 21 Juni 1979)</p>
<ul class="style1">
<li>Deputi Menteri Pendidikan Dasar (Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi, Periode: 27 Maret 1966 - 25 Juli 1966)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/26_mashuri.jpg" alt="Mashuri, S.H." width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Mashuri, S.H. </strong> (Pati, 19 Juli 1929)</p>
<ul class="style1">
<li>Deputi Menteri Perguruan Tinggi (Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi, Periode: 27 Maret - 25 Juli 1966)</li>
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan I, Periode: 6 Juni 1968 - 28 Maret 1973)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/27_sanusihardjadinata.jpg" alt="Sanusi Hardjadinata" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Sanusi Hardjadinata </strong> (Garut, 24 Juni 1914 - 12 Desember 1995)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Ampera yang disempurnakan, Periode: 11 Oktober 1967 - 6 Juni 1968)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/28_sumantribrodjonegoro.jpg" alt="Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Ir. Sumantri Brodjonegoro </strong> (Semarang, 3 Juni 1926 - 18 Desember 1973)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan II, Periode: 28 Maret 1973 - 18 Desember 1973)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/29_daoedjoesoef.jpg" alt="Dr. Daoed Joesoef" width="104" height="130" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Dr. Daoed Joesoef </strong> (Medan, 8 Agustus 1926)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan III, Periode: 31 Maret 1978 - 19 Maret 1982)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/30_abdulgafur.jpg" alt="dr. Abdul Gafur" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>dr. Abdul Gafur </strong> (20 Juni 1938)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Muda Urusan Pemuda (Kabinet Pembangunan III, Periode: 31 Maret 1978 - 19 Maret 1982)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="143"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/31_nugrohonotosusanto.jpg" alt="Prof. Dr. Nugroho Notosusanto" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Nugroho Notosusanto </strong> (Rembang, 15 Juni 1931 - 3 Juni 1985)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan IV, Periode: 19 Maret 1983 - 3 Juni 1985)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td height="143"></td>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/32_fuadhassan.jpg" alt="Prof. Dr. Fuad Hassan" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Fuad Hassan </strong> (Semarang, 29 Juni 1929)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan IV, Periode: 30 Juli 1985 - 21 Maret 1988)</li>
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan V, Periode: 21 Maret 1988 - 17 Maret 1993)</li>
</ul>
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="6" height="190"></td>
<td valign="top"><img longdesc="./menteri/wardimandjojonegoro.jpg" src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/33_wardimandjojonegoro.jpg" alt="Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro </strong> (Pamekasan, 22 Juni 1934)</p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan VI, Periode: 17 Maret 1993 - &#8230;)</li>
</ul>
</td>
<td rowspan="6"></td>
</tr>
<tr>
<td><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/34_wirantoarismunandar.jpg" alt="Prof. Dr. Wiranto Arismunandar" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Wiranto Arismunandar </strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Pembangunan VII, Periode: 17 Maret 1998 - 21 Mei 1998)</li>
</ul>
<p class="style1">
</td>
</tr>
<tr>
<td><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/35_juwonosoedarsono.jpg" alt="Prof. Dr. Juwono Soedarsono" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Juwono Soedarsono</strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri P dan K (Kabinet Reformasi, Periode: 21 Mei 1998 - 1 November 1999)</li>
</ul>
<p class="style1">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/36_yahyamuhaimin.jpg" alt="Dr. Yahya Muhaimin" width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Dr. Yahya Muhaimin </strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pendidikan Nasional (Kabinet Persatuan Nasional, Periode: 1 November 1999 - 1 November 2001)</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/37_malikfajar.jpg" alt="Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc." width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc.</strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pendidikan Nasional (Kabinet Gotong Royong, Periode: 1 November 2001 - 21 Oktober 2004)</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td><img src="http://www.depdiknas.go.id/sejarah/menteri/38_bambangsudibyo.jpg" alt="Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA." width="104" height="133" /></td>
<td valign="top">
<p class="style2"><strong>Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA. </strong></p>
<ul class="style1">
<li>Menteri Pendidikan Nasional (Kabinet Indonesia Bersatu, Periode: 21 Oktober 2004 - 2009)</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=51</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Depdiknas</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=49</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=49#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 06:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[ :: Sejarah Depdiknas





Sejak adanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 para pendiri bangsa ini telah menyadari pentingnya usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemikiran ini diperkuat dengan kenyataan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang menekankan bahwa tiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran. Untuk itu, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="judul2"> :: Sejarah Depdiknas</span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="98%" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="6%" height="100" valign="top" background="dir_images_i/menuutama_r3.jpg"></td>
<td width="94%" valign="top">
<div style="padding: 0px 10px 5px;">Sejak adanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 para pendiri bangsa ini telah menyadari pentingnya usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemikiran ini diperkuat dengan kenyataan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang menekankan bahwa tiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran. Untuk itu, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sehubungan dengan tuntutan konstitusi dimaksud, Pemerintah berketetapan untuk membentuk lembaga yang bertanggung jawab pada usaha pencerdasan kehidupan bangsa.</p>
<p>Mulai saat itu sampai sekarang ini telah terjadi penggantian nama institusi yang menangani pendidikan sebanyak enam kali. Keenam nama institusi yang menangani pendidikan sejak kemerdekaan sampai saat sekarang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.</p>
<table style="border-color: #a1a1a1; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="5" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="4%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>No.</strong></td>
<td width="47%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>Nama Institusi</strong></td>
<td width="49%" align="center" valign="top" bgcolor="#d1d1d1"><strong>Periode</strong></td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">1</td>
<td valign="top">Kementerian Pengajaran</td>
<td valign="top">19-8-1945 s.d. 29-1-1948</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">2</td>
<td valign="top">Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">29-1-1948 s.d. 10-7-1959</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">3</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">10-7-1959 s.d. 6-3-1962</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="center" valign="top">4</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">6-3-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan</td>
<td valign="top">18-2-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Departemen Olahraga</td>
<td valign="top">6-3-1962 s.d. 27-3-1966</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">5</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</td>
<td valign="top">25-7-1966 s.d. 26-10-1999</td>
</tr>
<tr>
<td align="center" valign="top">6</td>
<td valign="top">Departemen Pendidikan Nasional</td>
<td valign="top">26-10-1999 s.d. sekarang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=49</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Israel di dalam Islam</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=40</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 05:47:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[SEJARAH YAHUDI
Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.
Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="chapter"><span style="color: #003300;">SEJARAH YAHUDI</span></h3>
<p class="hyg">Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.</p>
<p class="hyg">Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:</p>
<p class="ayetler"><span style="color: #ff6600;">Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur’an, 21:69-71)</span></p>
<p class="hyg">Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.</p>
<p class="hyg">Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.</p>
<p class="ayetler"><span style="color: #ff6600;">Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur’an, 14:37)</span></p>
<p class="hyg">Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.</p>
<p class="hyg">Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.</p>
<table style="height: 21px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="2" width="422" align="center" bgcolor="#ffffff" bordercolor="#808080">
<tbody>
<tr>
<td height="196">
<div><img title="Sejarah Islam Dalam Islam" src="http://www.tragedipalestina.com/images/27.jpg" alt="27 Sejarah Islam dalam Islam" width="405" height="206" align="middle" /><br />
<span class="boxtext">Menyusul wafatnya Nabi Yusuf (Joseph), Bani Israel mengalami kekejaman tak terperikan di tangan Firaun.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="hyg">Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:</p>
<p class="ayetler"><span style="color: #ff6600;">Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur’an, 5:21)</span></p>
<p class="hyg">Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.</p>
<table border="5" cellspacing="0" cellpadding="10" width="450" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td class="ayetler" height="96">
<div><span style="color: #ff0000;">Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an, 48:26)</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="hyg">Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, <span style="color: #ff6600;">seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: <span class="ayetler">“: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78)</span></span> Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.</p>
<p class="hyg">Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.</p>
<p class="hyg">Zionisme menerjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.</p>
<p class="hyg">Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:</p>
<p><span style="color: #ff6600;">Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Qur’an, 3:68)</span></p>
<p><span class="baslik2">THE MUSLIM OBSERVER, September 2001</span><br />
<img title="Sejarah Islam Dalam Islam" src="http://www.tragedipalestina.com/images/palestine30.jpg" alt="palestine30 Sejarah Islam dalam Islam" width="380" height="424" align="middle" /><br />
<span class="hyg">W. REPORT, Juli 96 </span><br />
<span class="boxtext">Sementara umat Yahudi yang menentang Zionisme secara terbuka menentang pemerintah Israel, Yahudi fanatik berpandangan: “Tanah Terjanji adalah untuk Orang Terpilih. Selamanya. Kekal. Abadi.” Di sampul luar Washington Report on Middle East Affairs, Yahudi fanatik digambarkan membawa spanduk dengan semboyan ini. Karena pandangan keliru seperti ini, mereka bertindak kejam atas tahanan penduduk Palestina Kristen maupun Islam. <span style="color: #00ff00;">( di kutip dari situs tragedipalestina.com)</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian Tindakan Kelas</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=38</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=38#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 04:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian Tindakan Kelas

Pendahuluan
Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Penelitian Tindakan Kelas<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Pendahuluan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.</span></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas, bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan? Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata. dsb. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya?</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. Anda mungkin heran kenapa istilah ’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan (Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis &amp; McTaggrt, 1982: 5; Reason &amp; Bradbury, 2001: 1).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK? Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator Anda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerjasama dari semua orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya, dapat diraih. Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan dalam situasi nyata? Benar. Tindakan dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan dalam melakukan modifikasi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. Kedua<em>,</em> Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Ketiga<em>,</em> tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri. Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan.<em> </em>Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam<em>,</em> Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi.<em> </em>Kutujuh<em>, </em>Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio, riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional.<em> Kedelapan</em>, Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Kesembilan<em>,</em>Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK<em> </em>dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh<em>,</em> Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Apa yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Pertanyaan ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion, 1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy &amp; Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen &amp; Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kriteria dalam Penelitian Tindakan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Benarkah PTk harus memenuhi kriteria tertentu? Benar. Seperti layaknya penelitian, PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar validitas untuk penelitian tindakan condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh Burns, 1999). Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada validitas internal (Davis, 1995, disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis, yang harus dipenuhi dari awal sampai akhir penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan muncul sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson dkk,1994). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas: demokratik, hasil, proses, katalitik, dan dialoguis</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas Demokratik </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">berkenaan<strong> </strong>dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTk, idealnya Anda, guru lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup: Apakah semua<em> </em>pemangku kepentingan (<em>stakeholders</em>) PTK (guru, kolaborator, administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya? Apakah solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka? Apakah solusinya memiliki relevansi atau keterterapan pada konteks kelas Anda? Semua pemangku kepentingan di atas diberi kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas Anda. Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian berlangsung. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas Hasil </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal ini tergambar dalam siklus penelitian pada Gambar 1 di bawah, di mana ketika dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘<em>information gap</em>’, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul). Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteria berikutnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas Proses </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan ‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut: Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya, apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa. Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘<em>information gap</em>’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif yang demokratik. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat ditentukan oleh wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang komunikatif yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang menghambatnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada), dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik jika para peneliti merekamnya dengan kaset audio atau audio-visual sehingga catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas Katalitik </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">terkait dengan kadar pemahaman yang Anda capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi pembelajaran. Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan <em>inhibition </em>dan kecemasan. Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang mesti dijalani guru dalam proses pembelajaran komunikatif. Peran baru tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan pemahaman tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini dilakukan melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Validitas Dialogik </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat, dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara kritis sehingga terjadi dialog kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang dikritisi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Trianggulasi untuk Mengurangi Subjektivitas</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Bagaimana Anda meningkatkan validitas PTK Anda? Tidak lain dengan meminimalkan subjektivitas melalui trianggulasi. Anda sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode ganda dan perspektif kolaborator Anda untuk memperoleh gambaran kaya yang lebih objektif. Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164). Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses pembelajaran dengan seperangkat teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan siang pada hari yang berbeda dan jumlah pengamatan yang memadai, katakanlah 4-5 kali. Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama oleh beberapa peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan. Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian dapat mengamati proses pembelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda. Dalam contoh proses pembelajaran bahasa Inggris di atas, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan ajang penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas tersebut. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait. Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan motivasi dapat ditinjau dari teori motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan konstruktivis. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><br />
<strong>Reliabilitas</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Reliabilitas data PTK Anda secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi PTk terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun (alami) sehingga sulit untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai dengan mengendalikan hampir seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak mungkin atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan bertentangan dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah satunya adalah kontekstual/situasional dan terlokalisasi, dengan perubahan yang menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu tumpuan reliabilitas PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan (dalam lampiran) data asli seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kelebihan dan Kekurangan PTK</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky, 1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif/evaluatif dalam PTK; (3) dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat Passow, Miles, dan Draper, 1985).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2) rendahnya efisiensi waktu karena Anda harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara Anda masih harus melakukan tugas rutin ; (3) konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimpin demikian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Persyaratan Keberhasilan PTK</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (Hodgkinson, 1988): (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta penelitian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Penelitian Tindakan Kolaboratif</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa butir penting tentang PTK kolaboratif Kemmis dan McTaggart (1988: 5; Hill &amp; Kerber, 1967, disitir oleh Cohen &amp; Manion, 1985, dalam Burns, 1999: 31): (1) penelitian tindakan yang sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama, (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4) pengaruh langsung hasil PTK pada Anda sebagai guru dan murid-murid Anda serta sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kolaborasi atau kerja sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa; sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah lain; sejawat dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru dan pendidik guru, antara guru dan peneliti; antara guru dan manajer); sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru bahasa asing dan guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Prinsip-prinsip penelitian tindakan kolaboratif</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Tiga tahap PTK kolaboratif adalah: prakarsa, pelaksanaan, dan diseminasi (Burns, 1999: 207-208). Butir-butir tentang<strong> prakarsa </strong>yang perlu dipertimbangkan dalam PTK Anda (Burns, 1999: 207): </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">1. Sejauh dapat dilakukan, agenda PTK tindakan hendaknya ditarik dari kebutuhan-kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh semua pihak Anda sendiri, sejawat, kepala sekolah, murid-murid, dan/atau orangtua murid) yang terlibat dalam konteks pembelajaran/kependidikan di kelas/sekolah Anda;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">2. PTK Anda hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan Anda sebagai guru dan sejawat;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">3. PTK Anda hendaknya terpusat pada masalah-masalah pembelajaran kelas Anda, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun demikian, hasil PTK Anda daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori pembelajaran bidang studi Anda;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">4. Metodologi PTK Anda hendaknya ditentukan dengan mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Anda yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">5. PTK Anda hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Anda negosiasikan dengan pemangku kepentingan (<em>stakeholders</em>) terutama penelitian Anda, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang mungkin diperlukan dukungan kebijakannya).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">6. PTK Anda hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi serta budaya. Jadi Anda dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen LPTK yang relevan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Dalam PTK, butir-butir p<strong>elaksanaan </strong>di bawah harus dipertimbangkan<strong> </strong>(Burns, 1999: 207-208):</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">1. Anda sebagai pelaku PTK hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Upayakan mendapatkan dari pemimpin dukungan dan bantuan secara terus menerus dalam tahap-tahap pelaksanaan, diseminasi, dan tindak-lanjut penelitiannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">2. PTK Anda selayaknya dilakukan dalam kelas sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">3. PTK Anda akan berjalan dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan materi di sekolah atau wilayah sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">4. PTK Anda hendaknya dipadukan dengan komponen evaluasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Dalam tahap diseminasi PTK perlu dipertimbangkandua butir berikut (Burns, 1999: 208)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">1. Bentuk pelaporan hasil penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens sasarannya adalah guru-guru bahasa Inggris di SD, misalnya, bentuk laporannya berbeda dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik guru bahasa Inggris di universitas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">2. Jaringan kerja dan mekanisme yang tersedia di dalam lembaga pendidikan Anda hendaknya digunakan untuk menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil penelitian dilakukan lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kelebihan dan Kelemahan PTK Kolaboratif</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Apa kelemahan dan kelebihan PTK? Kelebihannya seperti dikatakan Burns (1999: 13) sebagai berikut. Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif (Wallace, 1998: 209-210): (1) <strong>kedalaman dan cakupan, yang artinya m</strong>akin banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman (misalnya studi kasus kelas bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan makin banyak perspektif yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing; (2) <strong>Validitas dan reliabilitas,</strong> yaitu keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan (<strong>3) Motivasi </strong>yang timbal lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih bersemangat daripada bekerja sendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kelemahan</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> terbesar PTK kolaboratif terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan kerjasama antara orang-orang yang berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dapat dipecahkan dengan membicarakan aturan-aturan dasar (Wallace, 1998: 210), seperti yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang akan kita lakukan? Mengapa kita menangani masalah ini? (Apakah kita memiliki motivasi yang sama, atau motivasi yang berbeda?) Bagaimana kita akan melakukannya? (Siapa melakukan apa dan kapan?) Berapa banyak waktu masing-masing dari kita akan siap dihabiskan untuk keperluan ini? Berapa sering kita akan bertemu, di mana dan kapan? Apa hasil akhir yang diharapkan? (Suatu ceramah atau artikel; atau sekadar pengalaman yang sama?) </span></span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya</span></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=38</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga Teknologi</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=36</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=36#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 08:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[IPTEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[







Written by Harry, on 24-10-2008 00:00  



”Sejumlah analis khawatir, teknologi baru akan mengganggu kebersamaan keluarga, tetapi tampak (dari survei ini) bahwa teknologi baru memungkinkan terciptanya ketersambungan baru yang terbangun di sekitar ponsel dan internet” (Tracy Kennedy, Universitas Toronto, penulis Laporan ”Networked Families”/Keluarga yang Tersambung). Ketika kolom ini mengulas soal multitasking (Kompas, 4 April 2007), komentar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="maincontent">
<table class="contentpaneopen" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<table class="mxcdefault_dotted" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Written by</strong> Harry, on 24-10-2008 00:00  <img src="http://pelangi.dit-plp.go.id//components/com_maxcomment/templates/default/images/new.gif" alt="" align="middle" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify"><img style="float: left;" title="Keluarga Teknologi" src="http://pelangi.dit-plp.go.id//images/stories/Artikel/keluargatekno1.jpg" border="0" alt="Keluarga Teknologi" hspace="6" width="250" height="190" />”<em>Sejumlah analis khawatir, teknologi baru akan mengganggu kebersamaan keluarga, tetapi tampak (dari survei ini) bahwa teknologi baru memungkinkan terciptanya ketersambungan baru yang terbangun di sekitar ponsel dan internet</em>” (Tracy Kennedy, Universitas Toronto, penulis Laporan ”Networked Families”/Keluarga yang Tersambung). Ketika kolom ini mengulas soal multitasking (Kompas, 4 April 2007), komentar yang masuk umumnya mengiyakan maraknya gejala mengerjakan berbagai aktivitas sekaligus dalam waktu yang sama. Memang multitasking–ditambah dengan multiple sensory input (memasukkan informasi dalam berbagai ragam rupa/media)—tampaknya sudah begitu meluas, bahkan menurut Linda Stone, mantan periset di perusahaan Apple dan Microsoft, gejala itu levelnya sudah epidemik. Salah satu akibatnya, banyak orang mengalami apa yang disebut continuous partial attention atau tidak bisa berkonsentrasi pada satu urusan karena pikirannya terbagi-bagi untuk berbagai urusan dalam satu waktu.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Kekhawatiran akan hal itu terutama ditujukan pada kaum muda atau mereka yang disebut sebagai ”generasi digital”. Dengan stimulasi SMS, MP3, telepon, dan chatting, yang bersifat terus-menerus, pada anak-anak akan terbentuk ketidakpekaan dan ketidakacuhan saat mereka berusia 25 atau 30 tahun nanti (Time, 19/3/2006). Ya, orangtua khawatir anak-anak akan tumbuh sebagai orang yang tidak acuh terhadap dunia di sekeliling mereka. Sekarang saja sering terlihat bagaimana anak, di antara saudara dan orangtua, bahkan mungkin juga antara suami dan istri, yang ketika fisiknya bersama-sama di satu tempat, masing-masing sibuk dengan gadget-nya sendiri. Ada yang sibuk ber-SMS, ada yang sibuk dengan laptop-nya, dengan blackberry- nya. Padahal, yang diidealkan adalah pada saat bersama, mereka justru lupa pada gadget dan hangat berkomunikasi secara konvensional, bercakap dan bercanda. Namun, benarkah itu satu-satunya arah yang akan dituju oleh masyarakat pada era teknologi? Masih adakah peluang teknologi justru mempersatukan dan menghangatkan keluarga?</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>AS membantah</strong></p>
<p align="justify">Ketika semakin banyak orang merisaukan maraknya kebiasaan multitasking karena akan menjauhkan diri dari konsentrasi dan kedalaman, di AS terbit hasil survei yang hasilnya berlawanan dengan kerisauan di atas. Dalam arti, meskipun ada pemakaian teknologi secara luas, pada dasarnya keluarga masih bisa mendapatkan manfaat positif dari teknologi. Dalam survei Pew Internet dan American Life Project yang mengikutsertakan 2.252 responden dewasa itu diperlihatkan, secara umum keluarga inti Amerika memiliki ponsel, menggunakan internet, dan memiliki komputer di rumah (AFP/MSN, 19/10).Yang disebut keluarga inti di sini adalah keluarga yang terdiri dari pasangan menikah dengan beberapa anak kecil. Apa yang diamati pada keluarga inti tersebut dibandingkan dengan apa yang ada pada orang dewasa yang hidup membujang, rumah yang dihuni anggota-anggota yang tidak mempunyai hubungan keluarga, atau pasangan tanpa anak. Survei menyebutkan, 66 persen rumah tangga (RT) pasangan menikah dengan anak-anak punya koneksi internet berkecepatan tinggi di rumah. Ini jauh di atas rata-rata RT nasional yang angkanya hanya 52 persen. Ditemukan pula bahwa dalam 65 persen RT menikah dengan beberapa anak, kedua orangtua dan sedikitnya satu anak berinternet. Survei juga menambahkan, anggota-anggota keluarga sering mengontak saudara dengan ponsel dan mereka menggunakan ponsel untuk mengoordinasikan kehidupan keluarga saat masing-masing sibuk di luar rumah. Survei menemukan, 42 persen orangtua mengontak anak- anaknya setiap hari dengan menggunakan ponsel. Hal itu membuat ponsel menjadi alat komunikasi paling populer di antara orangtua dan anak.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Internet dan TV</strong></p>
<p align="justify">Selain komunikasi dengan ponsel, berinternet ternyata juga sering menjadi salah satu aktivitas sosial. Sebanyak 50 persen pengguna internet yang hidup bersama pasangan dan satu/lebih anak sambung ke internet beberapa kali seminggu. ”Keluarga-keluarga kini semakin menjadi jaringan,” kata Barry Wellman, juga dari Universitas Toronto yang ikut menulis laporan itu. Ia menambahkan, bahwa masing-masing anggota keluarga bisa menjadi hub (simpul) komunikasi, dan itu mengubah banyak hal baik di dalam maupun di luar rumah. Yang menarik adalah bahwa pemanfaatan teknologi baru ini telah mengubah pula penggunaan teknologi lama. Memang di kalangan dewasa, 74 persen responden mengaku masih menonton TV hampir tiap hari. Namun, di kalangan kaum muda usia 18-29 tahun, persentase di atas lebih kecil, hanya 58 persen. Sebagian lain (29 persen) mengatakan, mereka menonton TV lebih sedikit karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan internet. Penurunan jumlah penonton TV, demikian pula pembaca media cetak, disebut merupakan konsekuensi langsung dari meningkatnya pemanfaatan media baru, yang telah mengubah masyarakat menjadi konsumen multimedia.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Pengaruh Positif</strong></p>
<p align="justify">Survei di atas tentu saja membesarkan hati, khususnya setelah muncul kecemasan yang terkait dengan maraknya sindroma kehilangan perhatian (<em>attention deficiency syndrome</em>/ADS), yang wujudnya berupa individu yang tidak acuh dengan lingkungan sekitar, termasuk ketika ada anggota keluarga atau teman di dekatnya. Dari uraian di atas yang tampak justru kesatuan keluarga dapat terus dipelihara atau bahkan ditingkatkan dengan menggunakan ponsel atau internet.Meskipun demikian, satu hal yang tetap perlu disadari adalah bahwa teknologi hanyalah sekadar alat. Unsur yang lebih mendasar adalah saling pengertian di antara keluarga itu sendiri, yang setiap saat harus dipupuk melalui komunikasi, secara tradisional ataupun dengan memanfaatkan sarana teknologi. Berkembangnya ”keluarga teknologi” memberi kemungkinan baru. Hanya saja, di Indonesia, hal itu belum bisa seluas di negara maju, mengingat masih terbatasnya tingkat pendapatan dan akses terhadap teknologi. Pada sisi lain, digital divide atau kesenjangan digital ini lah yang pertama harus ditanggulangi sebelum manfaat teknologi baru dapat sepenuhnya dirasakan masyarakat.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Sumber : <strong>www.kompas.com</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=36</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wali Songo</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=30</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=30#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 04:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[
Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.
Di latar nisan itu tersurat ayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><br/>
<div>Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.</div>
<p align="justify">Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”</p>
<p align="justify">Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.</p>
<p align="justify">”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.</p>
<p align="justify">Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ‘’songo”. Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.</p>
<p align="justify">Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.</p>
<p align="justify">Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.</p>
<p align="justify">Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.</p>
<p align="justify">Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.</p>
<p align="justify">Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.</p>
<p align="justify">Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.</p>
<p align="justify">Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.</p>
<p align="justify">Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.</p>
<p align="justify">Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.</p>
<p align="justify">Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama.</p>
<p align="justify">Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an.</p>
<p align="justify">Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria. Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.</p>
<p align="justify">Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.</p>
<p align="justify">Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.</p>
<p align="justify">Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.</p>
<p align="justify">Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.</p>
<p align="justify">Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan. Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.</p>
<p align="justify">Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.</p>
<p align="justify">Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.</p>
<p align="justify">”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.</p>
<p align="justify">Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.</p>
<p align="justify">Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.</p>
<p align="justify">Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.</p>
<p align="justify">Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.</p>
<p align="justify">Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.</p>
<p align="justify">Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.</p>
<p align="justify">Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.</p>
<p align="justify">Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.</p>
<p align="justify">Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.</p>
<p align="justify">Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.</p>
<p align="justify">Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;" align="justify">SELAMA 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.</p>
<p align="justify">Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.</p>
<p align="justify">Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.</p>
<p align="justify">Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.</p>
<p align="justify">Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.</p>
<p align="justify">Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.</p>
<p align="justify">Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.</p>
<p align="justify">Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.</p>
<p align="justify">Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.</p>
<p align="justify">Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.</p>
<p align="justify">Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.</p>
<p align="justify">Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.</p>
<p align="justify">Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.</p>
<p align="justify">Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.</p>
<p align="justify">Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.</p>
<p align="justify">Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.</p>
<p align="justify">Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.</p>
<p align="justify">Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.</p>
<p align="justify">Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.</p>
<p align="justify">Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.</p>
<p align="justify">Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.</p>
<p align="justify">Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.</p>
<p align="justify">Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=30</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>INTRO</title>
		<link>http://guruholid.com/?p=3</link>
		<comments>http://guruholid.com/?p=3#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 02:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perbaikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guruholid.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di personal website milik Holid Zamhari - Cilegon !

SEDANG DALAM PERBAIKAN

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Selamat datang di personal website milik Holid Zamhari - Cilegon !</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">SEDANG DALAM PERBAIKAN</p>
<p><img src="http://h1.ripway.com/ibnuzaki/lebaran-1.gif" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guruholid.com/?feed=rss2&amp;p=3</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
